Nasril Bahar Pertanyakan Kenapa Jokowi Belum Kunjungi Mesir

Mesir – Hubungan kerja sama antara Indonesia dan Mesir, khususnya di bidang perdagangan berjalan dengan sangat baik. Tercatat bahwa neraca perdagangan Indonesia-Mesir pada periode Januari-Juni 2018 mengalami surplus untuk Indonesia, yaitu sebesar USD 518 juta.

Demikian disampaikan Anggota DPR RI Komisi VI Nasril Bahar usai menghadiri pertemuan tentang industri dan perdagangan bersama Wakil Ketua DPR RI Agus Hermanto, Dubes RI untuk Mesir Helmy Fauzy, Ketua Komisi Parlemen Mesir, serta delegasi Parlemen RI untuk Mesir di Gedung Parlemen Mesir beberapa hari lalu.

“Bahkan pada acara Trade Expo Indonesia (TEI) 2018 yang berlangsung pada 24-28 Oktober 2018, telah dilakukan penandatanganan kontrak dagang Indonesia-Mesir senilai 76,48 juta dollar AS atau setara Rp 1,16 triliun,” katanya.

“Kopi Sumatera termasuk salah satu yang dibicarakan. Ini menjadi indikator dari strategisnya dan pentingnya hubungan Indonesia-Mesir untuk Indonesia di bidang industri dan perdagangan,” imbuh Nasril Bahar yang merupakan anggota dari Fraksi PAN itu.

Selain dalam bidang perdagangan dan industri, jelas Nasril Bahar, hubungan baik antara Indoesia dan Mesir juga terlihat di bidang pendidikan.

“Hingga akhir Agustus 2018, Kantor Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI mencatat, ada 5.955 mahasiswa Indonesia yang menimba ilmu di Mesir,” ujarnya.

Namun di balik hubungan baik tersebut, Nasril Bahar menyayangkan perhatian Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) terhadap Mesir. Presiden Jokowi, lanjutnya, belum pernah melakukan kunjungan kerja atau kenegaraan ke Mesir.

“Sepatutnya Bapak Jokowi menaruh perhatian yang lebih besar kepada Mesir, kunjungan kerja ataupun kenegaraan Presiden sangat penting untuk menunjukkan bahwa Indonesia memiliki komitmen yang tinggi untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas kerja sama di berbagai bidang dengan Mesir,” ungkapnya.

Jika komitmen kerja sama Indonesia-Mesir meningkat, jelas Nasril Bahar, akan memberi dampak yang besar untuk perdagangan atau ekspor Indonesia.

“Dalam perdagangan, apalagi antar dua negara, kepercayaan dan komitmen sangat penting. Mesir adalah negara yang kepercayaannya terhadap kita tidak boleh hilang, kalau sampai hilang sedikit-banyaknya pasti akan memberi dampak negatif untuk perekonomian kita,” jelas Nasril Bahar.

“Begitu juga dalam bidang pendidikan, banyak mahasiswa kita yang sedang menimba ilmu disana. Kita (Indonesia) harus mampu terus meningkatkan kepercayaan Mesir bahwa ribuan mahasiswa Indonesia selalu membawa nilai-nilai yang baik ke Mesir,” tandasnya.

Share This

Nasril Bahar Center