Merakyat Itu “Menjemput Suara Rakyat”!

Asahan – Di masa dinamika politik yang begitu keras seperti saat ini, kata “merakyat” kehilangan nilai. Banyak masyarakat dari berbagai lapisan pun menerjemahkan kata “merakyat” sebagai sebuah pencitraan belaka.

Hal itu disampaikan oleh Anggota DPR RI Fraksi PAN Nasril Bahar saat mengunjungi konstituennya di sebuah rumah makan Minang di Kabupaten Asahan, Selasa (2/10/2018).

“Itu disebabkan oleh politisi-politisi yang tidak bertanggungjawab. Di saat berkampanye seolah merakyat, namun saat menduduki posisi tertentu malah menciptakan dan menjalankan kebijakan yang sangat tidak pro rakyat,” katanya.

Lebih lanjut Nasril mengungkapkan, ada juga pejabat yang tetap percaya diri mencitrakan diri sebagai sosok merakyat meski masyarakat sendiri sudah mengetahui bahwa pejabat itu tidak pro rakyat sedikit pun.

“Banyak juga ditemui kasus-kasus, pejabat tertentu melakukan pencitraan ke masyarakat karena ia tidak mampu menjalankan fungsi sebagai tulang punggung masyarakat,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Nasril menegaskan bahwa seharusnya merakyat itu adalah “Menjemput Suara Rakyat”.

“Jangan hanya pada saat pemilu saja suara itu dijemput. Suara yang dimaksud adalah aspirasi, keinginan, cita-cita rakyat,” jelasnya.

Di daerah pemilihannya sendiri, Nasril telah menerima aspirasi dari banyak masyarakat. Aspirasi terbesar yang muncul adalah ganti presiden.

“Para pemilih saya percaya bahwa sosok Pak Prabowo dan Pak Sandi mampu memperbaiki berbagai masalah yang tidak dapat diselesaikan dan disebabkan oleh rezim saat ini,” tandasnya.

 

 

Share This

Nasril Bahar Center